<< Kembali ke Peta << Kembali ke Gambar Rumah

Situasi Stunting di Indonesia

Stunting mengacu pada tinggi badan anak yang terlalu rendah untuk usianya. Hal ini menunjukkan kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Anak stunting berisiko 1,5 kali lebih tinggi menjadi wasting dibandingkan dengan anak gizi baik. Risiko kematian akan meningkat jika anak mengalami dua permasalahan gizi ini (wasting dan stunting) secara bersamaan. Risiko kematian akan meningkat jika anak mengalami dua permasalahan gizi ini (wasting dan stunting) secara bersamaan. Wasting dan stunting merupakan bentuk malnutrisi yang saling terkait yang sering kali terjadi bersamaan dan memiliki faktor risiko yang sama, yang memengaruhi perkembangan masing-masing (Maureen et al, 2024; Aida et al, 2024). Hubungan antara wasting dan stunting bersifat kompleks, karena wasting dapat meningkatkan risiko stunting berikutnya dan sebaliknya, yang menekankan perlunya menangani kedua kondisi tersebut secara bersamaan untuk mengurangi konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang.

Menurut laporan UNICEF, WHO, dan Bank Dunia, pada tahun 2020, sekitar 149 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. WHO memperkirakan bahwa sekitar 45% dari semua kematian anak di bawah usia lima tahun terkait dengan kekurangan gizi, termasuk wasting dan stunting. Ini menunjukkan besarnya kontribusi kekurangan gizi terhadap kematian anak secara global. Di Indonesia, stunting masih menjadi tantangan gizi yang signifikan di kalangan anak-anak. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting mengalami penurunan dari waktu ke waktu, namun masih belum mampu memenuhi target yang ditetapkan oleh pemerintah dalam RPJMN.

Walaupun prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi, namun Indonesia sudah berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 37,6% pada tahun 2013 menjadi 21,6% pada tahun 2022, dengan rata-rata penurunan sekitar 1,55% per tahun. Prevalensi tersebut kemudian relatif stagnan pada temuan SKI 2023, yaitu di angka 21,5%. Perlu diakui progress ini belum dapat memenuhi target RPJMN 2020-2024 yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 14% pada tahun 2024.

Hasil SKI 2023 menunjukan bahwa sekitar 1 dari 5 balita usia 0-59 bulan di Indonesia mengalami stunting pada tahun 2023. Data per provinsi menunjukkan bahwa terdapat gap yang cukup besar antar wilayah, dengan prevalensi stunting terendah sebesar 7,2% dan tertinggi sebesar 39,4%. Dari 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 15 provinsi memiliki prevalensi stunting di bawah angka nasional. Tiga provinsi yang memiliki prevalensi stunting paling banyak di Indonesia adalah: Papua Tengah (39,4%), Nusa Tenggara Timur (37,9%), dan Papua Pegunungan (37,3%). Sedangkan ada tiga provinsi yang telah mencapai target RPJMN 2024 yaitu stunting di bawah 14%, yaitu: Bali (7,2%), Jambi (13,5%) dan Riau (13,6%), selengkapnya 

                   

Sumber:

Aida, H., Al-Sadeeq., Aidroos, Z., Bukair., Al-Khader, N., Laswar. (2024). Concurrent Wasting and Stunting among Under-Five Children: A Five-Year Hospital-Based Study in Aden.   doi: 10.47372/yjmhr.2024(13).1.5 

Badan Pembangunan Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan. 2024. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023

Badan Pembangunan Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan. 2023. Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022

Maureen, I., Punuh., Rahayu, H., Akili., Ardiansa, A.T., Tucunan. (2024). The relationship between energy intake with stunting and wasting among toddlers in Aertembaga subdistrict, Bitung city. International Journal of Community Medicine and Public Health, 11(3):1045-1048. doi: 10.18203/2394-6040.ijcmph20240601